Sumatera Selatan menyimpan kekayaan seni pertunjukan yang berakar kuat pada peradaban maritim Kerajaan Sriwijaya dan keagungan Kesultanan Palembang Darussalam. Keberadaan tarian daerah Sumatera Selatan bukan sekadar sarana hiburan panggung, melainkan media komunikasi adat yang mencerminkan etika kesopanan, penghormatan kepada tamu kehormatan, serta rasa syukur atas karunia alam semesta. Selain itu, setiap gerakan lentik jemari, langkah kaki yang gemulai, dan alunan musik tradisional menyatu melahirkan identitas budaya yang memukau masyarakat Nusantara.
Di samping berkembang di pusat kesultanan Palembang, seni tari tradisional juga tumbuh subur di wilayah pedalaman dataran tinggi Besemah, lembah Lematang, hingga kawasan sungai Batanghari Sembilan. Oleh karena itu, artikel ini mengulas ragam tarian daerah Sumatera Selatan secara mendalam, lengkap dengan asal-usul sejarah, makna filosofis, busana adat pengiring, serta perbandingan fungsionalnya dalam materi pembelajaran seni budaya.
Karakteristik dan Nilai Luhur Tari Tradisional Sumatera Selatan
Seni tari di Bumi Sriwijaya memiliki ciri khas estetika yang membedakannya secara tegas dari tarian daerah lain di Nusantara. Pada dasarnya, karakteristik ini lahir dari perpaduan nilai-nilai luhur kepulauan Melayu, pengaruh ajaran Islam, serta sisa-sisa kebesaran kemaharajaan masa lampau.
Pertama, tradisi sekapur sirih menjadi ruh utama dalam hampir seluruh tarian penyambutan. Masyarakat Sumatera Selatan senantiasa menjunjung tinggi nilai keramahan. Oleh sebab itu, penari selalu menyuguhkan kapur sirih di dalam wadah kuningan berukir (tepak) sebagai simbol ketulusan hati tuan rumah dalam menerima kehadiran tamu terhormat.
Kedua, busana tari sarat akan kemegahan benang emas. Para penari mengenakan pakaian adat kebesaran seperti Aesan Gede atau Aesan Paksangko yang berpadu serasi dengan kain songket lepus khas Palembang. Selain itu, mahkota keemasan yang menjulang tinggi di atas kepala serta hiasan teratai dada semakin mempertegas keanggunan perempuan Melayu.
Ketiga, alunan musik mengalir anggun melalui perpaduan instrumen gamelan Melayu dan perkusi ritmis. Ansambel musik tradisional memadukan instrumen kelintang, kromong, gong, kendang, akordeon, serta rebana. Dengan demikian, musik pengiring ini menghasilkan harmoni melodi yang mengalun syahdu namun tetap berwibawa.
Daftar Tarian Daerah Sumatera Selatan Paling Populer dan Filosofinya
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai ragam tarian tradisional asal Sumatera Selatan yang mengukir prestasi sebagai warisan budaya bangsa.
1. Tari Gending Sriwijaya (Penyambutan Tamu Agung)
Tari Gending Sriwijaya menempati derajat tertinggi sebagai tarian kolosal penyambut tamu agung kenegaraan di Sumatera Selatan. Seniman lokal menggubah tarian ini pada rentang tahun 1943 hingga 1944 untuk mengenang kejayaan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat peradaban dan perdagangan maritim di Asia Tenggara.

Secara formasi baku, sembilan penari perempuan muda mementaskan tarian ini guna melambangkan sembilan sungai besar di Sumatera Selatan (Batanghari Sembilan). Satu penari utama memimpin di barisan depan dengan membawa tepak sirih, sedangkan dua rekan di sampingnya memegang peridon dan prajurit mengawal menggunakan tombak serta payung kebesaran.
Selain itu, gerakan Tari Gending Sriwijaya berlangsung sangat tenang, agung, dan berwibawa. Setiap ayunan tangan yang lentik mencerminkan sikap hormat yang tulus. Selanjutnya, iringan tembang vokal yang megah mengiringi penyerahan sekapur sirih kepada pejabat tinggi negara atau kepala pemerintahan yang berkunjung.
2. Tari Tanggai (Keanggunan Gerak Jemari Berkuku Lentik Emas)
Selain Gending Sriwijaya, masyarakat sering mementaskan Tari Tanggai untuk menyambut tamu dalam acara pernikahan, peresmian gedung, maupun festival kebudayaan di Kota Palembang. Bahkan, tarian ini telah berkembang sejak era Kesultanan Palembang Darussalam.

Ciri khas utama tarian ini terletak pada penggunaan aksesori bernama tanggai, yaitu kuku tiruan yang terbuat dari tembaga atau kuningan keemasan. Penari menyematkan aksesori lentik ini pada delapan jari tangan mereka (selain ibu jari). Oleh karena itu, gerakan meliuk-liukkan pergelangan tangan dan lentikan jemari membuat kilauan kuku emas terlihat sangat memukau.
Biasanya, lima hingga tujuh penari perempuan membawakan tarian ini dengan mengenakan baju kurung beludru merah bertabur bordir emas dan kain songket Palembang. Di samping itu, makna utama tarian ini melambangkan ucapan selamat datang serta keterbukaan hati masyarakat Palembang terhadap para pendatang.
3. Tari Pagar Pengantin (Pelepasan Masa Lajang Mempelai Wanita)
Tari Pagar Pengantin memiliki kedudukan sakral dalam adat pernikahan masyarakat Melayu Palembang. Oleh sebab itu, keluarga menyelenggarakan tarian ini tepat di depan pelaminan setelah prosesi akad nikah atau pada saat resepsi adat berlangsung.

Keunikan yang sangat mencolok dari Tari Pagar Pengantin terletak pada peran mempelai wanita sebagai penari inti. Pengantin wanita menari anggun di atas nampan dulang kuningan khusus, sementara empat dayang mengelilingi pengantin dengan gerak serempak. Namun, sang pengantin pria tetap berdiri tenang di sisi pelaminan mengawasi gerak istrinya.
Secara filosofis, dulang lingkaran melambangkan batas ruang gerak perempuan setelah memasuki mahligai pernikahan. Oleh karena itu, gerakan tarian ini menggambarkan perpisahan masa lajang mempelai wanita, penghormatan terakhir kepada kedua orang tua, serta pernyataan kesiapan lahir batin untuk setia mendampingi suami tercinta.
4. Tari Kebagh (Tarian Adat Sakral Tanah Besemah Pagar Alam)
Beralih ke kawasan dataran tinggi Gunung Dempo, masyarakat Kota Pagar Alam dan Kabupaten Lahat melestarikan Tari Kebagh (Tari Semban Bidodari). Bahkan, Kementerian Kebudayaan telah menetapkan tarian sakral ini sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Kata kebagh dalam bahasa suku Besemah bermakna mengepakkan sayap. Rentangan kedua tangan penari mendominasi gerak tarian ini sehingga menyerupai kepakan sayap burung yang sedang terbang melayang di angkasa. Oleh sebab itu, gerakan tersebut memancarkan kesan ketenangan, kebebasan batin, dan keanggunan alami bidadari kayangan.
Pada masa lalu, masyarakat melingkupi pementasan tari ini dengan ritual adat sakral. Tetua adat senantiasa mengawali pertunjukan dengan menabur beras kunyit sebagai wujud permohonan restu kepada leluhur dan bidadari penunggu gunung. Di samping itu, penari mengenakan selendang merah lebar bernama semban bidodari serta mahkota singal khas Besemah.
5. Tari Erai-Erai (Pesta Panen dan Filosofi Serai Serumpun Lahat)
Tari Erai-Erai merupakan tarian pergaulan rakyat yang lahir di tengah masyarakat etnik Lematang, Kabupaten Lahat. Tokoh seniman lokal bernama Bapak Mungkim mulai memopulerkan tarian ini sekitar dekade 1920-an sebagai ungkapan suka cita para petani saat menyambut musim panen padi yang melimpah.

Masyarakat memetik nama Erai-Erai dari ungkapan bahasa daerah *serumpun serai*. Filosofi ini menegaskan bahwa meskipun tanaman serai memiliki banyak batang yang terpisah (bercerai-berai), pangkal batangnya tetap menyatu dalam satu rumpun yang kokoh. Dengan demikian, tarian ini menggambarkan solidaritas warga desa yang senantiasa guyub dan kompak menghadapi tantangan hidup.
Selain itu, para penari melantunkan syair pantun jenaka secara bersahutan mengikuti petikan gambus, biola, dan hentakan rebana riang gembira. Bahkan, lagu daerah seperti *Umak Oi Umak* senantiasa mengiringi langkah kaki dan ayunan tangan penari yang bergerak selaras sepanjang pertunjukan.
6. Tari Sambut Silampari (Legenda Bidadari Kayangan Musi Rawas)
Dari kawasan barat Sumatera Selatan, masyarakat Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas melestarikan Tari Sambut Silampari (Silampari Kahyangan Tinggi). Pada intinya, tarian ini berfungsi utama sebagai media penyambutan tamu kehormatan daerah.

Asal usul kata Silampari berasal dari penggabungan kata *silam* (lenyap atau hilang) dan *pari* (peri atau bidadari). Lebih lanjut, latar belakang tarian ini berakar pada cerita rakyat legenda Dayang Torek dan Bujang Penulup. Cerita ini mengisahkan bidadari kayangan yang turun ke bumi untuk mandi di air terjun Watervang, lalu selendangnya tersimpan oleh pemuda bumi hingga ia menari sebelum kembali mengangkasa.
Penari mengenakan busana teratai dada bertabur payet berkilau serta selendang panjang transparan. Di samping itu, tarian ini memadukan gerak lembut melangkah maju dengan prosesi penyerahan sirih pinang kepada tamu terdepan sebagai wujud ketulusan warga Musi Rawas.
7. Tari Putri Bekhusek (Simbol Kemakmuran Lembah Ogan)
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) memiliki tarian khas bertajuk Tari Putri Bekhusek. Dalam dialek bahasa Ogan, kata *bekhusek* memiliki makna bermain-main atau bersukaria di waktu senggang.

Tarian ini menceritakan kehidupan para putri bangsawan dan gadis-gadis desa di sepanjang tepian aliran Sungai Ogan yang sedang bermain dengan penuh keceriaan. Oleh karena itu, Tari Putri Bekhusek menjadi simbol kemakmuran daerah yang subur serta cerminan paras ayu dan kelembutan budi pekerti wanita Sumatera Selatan.
Koreografi tarian ini banyak menampilkan gerakan lincah meliukkan tubuh, tepukan tangan berirama, dan formasi melingkar yang dinamis. Selain itu, penari memakai busana baju kurung tradisional bersama gelang kars dan selendang sutra berwarna cerah.
8. Tari Tenun Songket (Ketelatenan Pengrajin Kriya Palembang)
Kain songket merupakan mahakarya seni kriya kebanggaan Palembang yang bernilai seni tinggi. Untuk mengabadikan proses pembuatannya, seniman tari Sumatera Selatan merancang Tari Tenun Songket sebagai tarian kreasi berbasis tradisi.

Koreografi Tari Tenun Songket memperagakan tahapan kerja para perempuan perajin songket, mulai dari memintal helai benang sutra, memasang benang emas pada alat tenun gedogan, hingga menghasilkan lembaran kain yang berkilau mewah. Oleh sebab itu, tarian ini mendidik generasi muda agar senantiasa tekun, sabar, dan menghargai karya seni rupa kriya daerah.
Tabel Perbandingan Lengkap Tarian Daerah Sumatera Selatan
Untuk memudahkan Anda memahami keunikan masing-masing tarian dalam satu rangkuman ringkas, cermati tabel komparasi berikut ini:
| Nama Tarian | Asal Daerah | Kategori / Fungsi Utama | Properti Khas | Jumlah Penari |
|---|---|---|---|---|
| Tari Gending Sriwijaya | Kota Palembang | Penyambutan Tamu Agung Kenegaraan | Tepak Sirih, Payung, Tombak | 9 Penari Perempuan |
| Tari Tanggai | Kota Palembang | Penyambutan Tamu Acara Umum / Adat | Tanggai (Kuku Palsu Emas), Tepak | 5 atau 7 Penari |
| Tari Pagar Pengantin | Kota Palembang | Upacara Adat Pernikahan | Dulang Kuningan / Baki Pengantin | 5 Orang (Pengantin + 4 Dayang) |
| Tari Kebagh | Besemah / Pagar Alam | Tari Sakral Upacara Adat Daerah | Semban Bidodari (Selendang), Beras Kunyit | Ganjil atau Massal |
| Tari Erai-Erai | Lematang / Kab. Lahat | Pesta Panen dan Hiburan Rakyat | Kain Tumpal Perahu, Pending | Pasangan / Berkelompok |
| Tari Sambut Silampari | Musi Rawas / Lubuklinggau | Penyambutan Tamu Kehormatan | Tepak Sirih, Selendang Sutra | 5 hingga 9 Penari |
| Tari Putri Bekhusek | Ogan Komering Ulu (OKU) | Tari Hiburan Tradisional Gadis Desa | Selendang Cerah, Kars Gelang | 4 hingga 6 Penari |
| Tari Tenun Songket | Kota Palembang | Tari Kreasi Edukasi Budaya Kriya | Alat Tenun Mini, Helai Songket | Kelompok (Bebas) |
Perbedaan Utama Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai
Banyak pelajar dan masyarakat umum sering menyamakan Tari Gending Sriwijaya dengan Tari Tanggai karena keduanya berasal dari Palembang dan sama-sama berfungsi sebagai tari penyambut tamu. Namun demikian, kedua tarian ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar:
| Aspek Pembeda | Tari Gending Sriwijaya | Tari Tanggai |
|---|---|---|
| Tingkat Kehormatan Tamu | Khusus tamu agung kenegaraan, kepala negara, atau duta besar asing | Tamu umum, undangan pernikahan adat, dan acara festival publik |
| Jumlah Penari Baku | Sembilan penari perempuan utama (lambang Batanghari Sembilan) bersama pengawal pria | Berjumlah fleksibel 5 atau 7 penari perempuan tanpa pengawal |
| Aksesori Tangan | Penari tidak memakai kuku palsu lentik (fokus memegang tepak dan peridon) | Wajib memakai tanggai (kuku palsu emas melengkung pada 8 jari) |
| Busana Adat | Aesan Gede lengkap dengan mahkota keemasan bertingkat megah | Aesan Paksangko atau baju kurung beludru merah bersulam emas |
Integrasi Seni Tari Tradisional dalam Kurikulum Merdeka
Dalam kebijakan kurikulum terkini dari Kemendikdasmen, pengenalan seni tari daerah masuk ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya dimensi Berkebinekaan Global dan Kreatif. Guru tidak hanya mengajak siswa menghafal koreografi, melainkan juga menuntun mereka menelusuri pesan moral dan filosofi di balik gerak tari tersebut.
Sebagai contoh, nilai gotong royong tampak nyata pada Tari Erai-Erai, sementara nilai penghormatan antarmanusia tercermin secara anggun melalui Tari Tanggai dan Gending Sriwijaya. Dengan demikian, generasi muda dapat memperkuat apresiasi budaya Nusantara dan mencegah kepunahan warisan adiluhung bangsa di era serbuan budaya asing.
Selain mempelajari ragam gerak tari, Anda juga dapat mengasah pemahaman materi kebudayaan dan kebahasaan melalui bank contoh soal bahasa Indonesia yang memuat pembahasan teks deskripsi kebudayaan daerah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa tarian daerah Sumatera Selatan yang paling terkenal?
Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai merupakan dua tarian daerah Sumatera Selatan yang paling terkenal. Keduanya berfungsi sebagai tarian penyambut tamu kehormatan dengan menyuguhkan sekapur sirih sebagai simbol ketulusan dan keramahan warga Palembang.
Apa nama kuku palsu dalam tarian tradisional Palembang?
Aksesori kuku tiruan melengkung berwarna keemasan tersebut bernama tanggai. Penari memasang tanggai pada delapan jari tangan mereka untuk mempercantik kelentikan gerak jemari saat membawakan Tari Tanggai.
Mengapa pengantin wanita menari di dalam dulang pada Tari Pagar Pengantin?
Pengantin wanita menari di dalam dulang kuningan sebagai simbol batas ruang gerak perempuan setelah menikah. Prosesi ini bermakna pelepasan masa lajang, rasa hormat kepada orang tua, serta kesiapan menapaki kehidupan rumah tangga bersama suami.
Apakah Tari Bedana berasal dari Sumatera Selatan?
Bukan. Tari Bedana merupakan tarian tradisional berakar Melayu-Arab yang berasal dari Provinsi Lampung, bukan Sumatera Selatan. Sebaliknya, tarian pergaulan yang asli berasal dari pedalaman Sumatera Selatan adalah Tari Erai-Erai dari Lahat dan Tari Kebagh dari Pagar Alam.
Rangkuman
Ragam tarian daerah Sumatera Selatan memancarkan kekayaan peradaban Nusantara yang memesona. Mulai dari keagungan Tari Gending Sriwijaya, keindahan lentik Tari Tanggai, kesakralan Tari Pagar Pengantin, hingga keunikan Tari Kebagh di Besemah, seluruhnya mengajarkan nilai kesopanan, persaudaraan, dan rasa hormat yang mendalam. Oleh karena itu, melestarikan tarian tradisional ini merupakan kewajiban bersama agar jati diri bangsa tetap lestari di tengah dinamika perkembangan zaman modern.
Bermanfaat? Bagikan artikel ini ke grup WhatsApp Anda:
Bagikan ke WhatsApp